Tuesday, January 25, 2011

Pantun Empat

Teratak intan dikarang-karangkan,
Karangan oleh Hassan dan Hashim,
Tidak dapat zaman sekarang,
Nantikan angin bergilir musim.

Mengail keli di tengah bendang,
Dapat pula si ikan siakap,
Telah lama hamba tenung dan pandang,
Tak pernah jemu hamba menatap.

Cintaku bagai Adam dan Hawa,
Berjumpa juga setelah berpisah,
Bagaimana hati tidak kecawa,
Cinta dicampur rasa bersalah.

Apa diharap padi seberang,
Entahkan menjadi entahkan tidak,
Apa dirisau perasaan mendatang,
Entah benar entahkan tidak.

Laut dalam si laut lepas,
Kapal berlabuh bertukar ganti,
Kalau karam pasti ku lemas,
Kalau lemas pasti ku mati.

Bulan penuh lingkaran bertepi,
Cantik sungguh bila diperhati,
Tuan hanyut di lautan sepi,
Hanya hamba setia menanti.



 















Di senja itu hujan pun turun
seiring kecewa hati ku
Di saat itu engkau tak lagi
membisikan kata rayuan mu
Bunga di taman
Bunga yang mekar
Tak seindah saat-saat itu
Burung bernyanyi tak merdu lagi
dan seakan mengusik diri ku

Oh, pedih
Kehilangan permata hati ku sayang
Dan mengapa terjadi
aku sedang menyayangmu
Demi untuk mu
Demi kasih ku
Aku rela kehilanganmu
Di saat duka ingatlah daku
Hatiku masih bagai dulu.

Sayangku...
Ku berikan dikau kebebasan
Demi kasih ku kepada mu
Hanya satu saja pintaku
Ingatilah daku di saat kau duka
dan jagalah dirimu.

                               
                                

Pantun Tiga




Kalau keruh air di loyang,
Ambil setimba air di pedati,
Kalau sungguh benar disayang,
Carik satu segerobok diganti.

Ambil setimba air di pedati,
Percikan terkena seluruh mata,
Kalau janji akan ku tepati,
Jika kata akan ku kota.

Berkilau batu permata berseri,
Menyerlah cahaya seluruh maya,
Sungguh itu apa dirasai,
Biarlah ia untuk selamanya.

Walau hancur badan binasa,
Tak pernah terlintas ingin melupa,
Pada mu kasih ku nanti jua,
Selagi hayatku masih di jiwa.

Menganyam buih di tangga serambi,
Sampai berderai si air mata,
Bersemayam kasih bertahta di hati,
Sehingga sampai ke hujung nyawa.




Monday, January 24, 2011

Pantun Dua
















Tudung saji dari Melaka,
Di pakai untuk tari menari,
Walaupun kita jauh di mata,
Tetapi tetap dekat di  hati.

Tudung saji pakai di bendang,
Dipakai oleh anak Pak Tani,
Lama sudah tidak ku pandang,
Rindu hatiku tidak terperi.

Tudung saji warnanya biru,
Dibuat oleh anak seberang,
Kalaulah jauh sama dirindu,
Bilalah dekat bertambah sayang.

Tudung saji ditenun kain,
Kain ditenun warnanya terang,
Hatiku tidak pada yang lain,
Racun penawar engkaulah seorang.

Pantun Satu

Hasrat nak beli dulang bertepi,
Barulah molek untuk untuk hidangan,
Hajat nak cari yang sama sehati,
Barulah molek makan sepinggan.

Pergi memburu di tepi hutan,
Dapat seekor anak rusa nani,
Kalau begitu hajatmu tuan,
Mengapa dibiar tersiksa begini.

Gerimis hujanlah gerimis,
Gerimis sampai kedini hari,
Menangis janganlah menangis,
Orang yang pergi takkan kembali.

Itik belibis berenang di air,
Menunggu tiba udang bergaya,
Kini menangis telah berakhir,
Bulan ku menjelma memancar cahaya.

Menunggu tiba udang bergaya,
Air di bendang dikocak jangan,
Kalau hamba bulan bercahaya,
Tuan pula pungguk idaman.

Kalau menuba di Lubuk Semantan,
Sampai ke Terua memunggut ikan,
Kalau hamba pungguk idaman,
Sampai ke tua mati beragan.

Dalam perahu keranjang ikan,
Dalam keranjang ikan tenggiri,
Kalau ku tahu menyintaimu tuan,
Kalau ku tahu menyiksa diri.

Kalau ku tahu menyintaimu tuan,
Kalau ku tahu menyiksa diri,
Tidak mahu aku meneruskan,
Tidak mahu aku mencari.

Hendak tidur tidurlah mata,
Jangan pula termimpi-mimpi,
Tiada apa hendak ku kata,
Itu sudah takdir Ilahi.

Mutiara putih berangkai-rangkai,
Terputus benang lalu bertabur,
Tuan umpama lautan tak berpantai,
Hamba terapung tah bila kan terdampar.

Nelayan dari Batu Berendam,
Membawa balik hasil tangkapan,
Sudah jenuh perasaan berdendam,
Menunggu kasih memberi harapan.